Senin, 14 Januari 2013

PUTRI MALAKA


PUTRI MALAKA*
                Penduduk Kampung Batu gampir telah mendapatkan kabar bahwa hari itu kampung mereka akan dilalui oleh rombongan Putri Malaka. Karenanya, pada hari itu mereka telah berkumpul di pinggir jalan yang akan dilalui oleh sang putri yang terkenal kecantikannya ke seluruh kesultanan melayu itu.
            Tidak lama kemudian rombongan Putri Malaka sudah tampak oleh mereka. Suara nobat dan nafiri terdengar semakin nyaring mengiringi kedatangan rombongan tersebut. Tampaklah kereta kuda sang Putri yang diiringi oleh 30 prajurit Aceh dan 20 prajurit Riak Damai. Rupanya sang putri baru saja mengunjungi sultan Aceh dan kini ia bermaksud mengunjungi sultan Riak Damai di kerajaannya.
            Rakyat segera berlutut tatkala rombongan putri datang. Tiba-tiba saja terjadi keributan kecil. Ternyata sumber keributan itu adalah Bujang yang tidak mau berlutut meskipun beberapa prajurit memaksanya untuk belutut. Keributan itu di dengar oleh sang putri sehingga ia menyuruh rombongan agar berhenti.
            “Paman, ada keributan apa??” tanya sang putri.
            “Ampun, tuan putri. Ada seseorang pemuda yang tidak mau berlutut dan menundukkan kepalanya. Kami sudah memaksanya, tetapi ia melawan,” ujar ketua prajurit agak ketakutan.
            “Bawalah ia kehadapanku !!!”
            “Daulat, tuan putri.”
            Prajurit itupun menyuruh anak buahnya untuk mendatangkan Bujang ke depan hadapan Putri Malaka. Maka, dua prajurit segera membawa Bujang kehadapan tuan putri. Bujang tampak tenang-tenang saja dibawa menghadap kepada tuan putri. Tak lama kemudian , ia pun sampai pada kereta kuda tuan putri.
            “Berlutut, ayo berlutut!! Tundukkkan kepala!!” perintah ketua prajurit setengah membentak.
            “Bagaimana berlututnya?? Aku tidak tau,” ujar Bujang lugu.
            “Bodoh, begini cara berlutut,” ucap ketua prajurit sambil menundukkan kepala memberi contoh kepada bujang. “sudah kau liat bagaimana cara berlututnya??”.
            “Ya, aku meluhatnya. Kau emang pantas berlut seperti itu, tetapi aku tidak pantas.” Ledek Bujang.
            “Kau,,,!!!”
            “Paman biarkan ia berdiri !!” perintah Putri Malaka dari dalam kereta. Lalu sang Putri Malaka pun keluar dengan dua orang prajurit wanita.
            Putri Malaka kini sudah berada di hadapan Bujang. Di bibirnya masih tersisa senyuman karena mendengar perdebatan Bujang dengan ketua prajurit. Ternyata putri adalah wanita yang anggun dan berwibawa. Sehingga Bujang pun akhirnya menundukkan kepalanya.
            “Siapa namamu saudara??” tanya Putri Malaka.
            “Ampun tuan putri. Nama hamba Nurddin, tapi biasa dipanggil si Bujang.”
            “Hai Bujang, mengapa engkau tidak mau berlutut??”
            “Ampun, tuan putri. Menurut hamba, tuanlah yang pantas berlutut, bukan hamba,” jawab Bujang dengan tenangnya.
            “Kurang ajar,,!!” carut ketua prajurit.
            “Diamlah paman, !!” perintah Putri Malaka. “Saudara bujang, mengapa aku yang pantas berlutut??”
            “Ampun tuan putri, jika pakaian tuanku kotor karena berlutut, tanku bisa menggantinya dengan yang pakaian yang lain. Sedangkan hamba, jika hamba yang berlutut, maka pakaian apa lagi yang hamba gunakan untuk shalat??” tanya Bujang.
            Sang putri diam sejenak. Ia memandangi Bujang dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Dalam hatinya, ia mengakui apa yang dikatakan Bujang. Kelusuhan pakaian yang di kenakan Bujang sudah membuktikan kebenaran yang telah ia katakan.
            “Lalu mengapa kau berani melihatku dan rombongan, padahal engkau mengetahui itu dilarang??” tanya Putri Malaka lagi.
            “Ampun taunku, jika tuan putri tidak mau dilihat orang, mengapa tuan putri tidak berjalan di depan orang buta saja??” tanya Bujang yang masih menundukkan kepalanya.
            “Pengawal, kita lanjutkan perjalanan.!!”
            Putri Malaka kembali menaiki kereta kudanya. Rombongan itu pun melanjutkan perjalanannya diiringi suara nobat dari nafiri. Setelah rombongan itu jauh, maka orang-orang segera mengerumuni Bujang. Di antara mereka ada yang memuji keberanian Bujang ada pula yang menasehatinya. Bujang hanya tersenyum-senyum saja mendengar semua itu. Kemudian ia pun pergi menjauhi kerumunan orang yang masih membicarakannya.


*tulisan ini di ambil dari buku debat + humor islami

Minggu, 06 Januari 2013

Mus'ab Ibnu Umair

 (Persembahan untuk Agama)
Oleh: Andi Musthafa Husain


“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.
(QS Ali ‘Imrān [3]: 133)

       
                Alkisah, tentang seorang sahabat Rasulullah yang bernama Mus’ab ibnu ‘Umair. Di zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang juragan Nasrani yang kaya-raya. Ia hanya memiliki satu-satunya anak kesayangan yang diberi nama Mus’ab ibnu ‘Umair. Sebagai anak tunggal, Mus’ab selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Semenjak kecil, orangtuanya selalu mengajarkan ia menjadi anak yang rapi, bersih, dan jujur.
                Di masa remajanya, Mus’ab selalu menjadi bintang di daerahnya. Manusia yang dianugrahi ketampanan yang luar biasa ditambah lagi dengaan kecerdasan yang mapan. Pada suatu ketika, orang yang wanginya mencapai jarak 100 meter dari jarak keberadaannya ini, berjalan-jalan di kota Madinah. Ia melihat Rasulullah sedang berjalan menuju suatu tempat yang biasanya untuk penyebaran agama Islam secara sembunyi-sembunyi.
                Rasa ingin tahu Mus’ab seketika itu juga meluap. Ia berusaha mendengarkan pembicaraan kaum muslimin dari jarak kejauhan. Namun, Rasulullah mengetahui hal itu, dan segera memanggil Mus’ab untuk bergabung dalam forum. Dengan rasa takut berbaur dengan malu, Mus’ab melangkahkan kakinya menuju panggilan Rasulullah salallāhu ‘alaihi wa sallām. Ketangkasan otak Mus’ab dalam berpikir merespon cepat terhadap apa-apa yang diajarkan oleh baginda Rasulullah. Kata demi kata ia pahami dengan cermat dan tangkas.
                Keesokan harinya, Mus’ab ibnu ‘Umair bangun pagi dan segera mencari Rasulullah dan menyatakan syahadatnya, “Asyhadu anlāiāhaillalahi wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullahi.” Kata itu spontanitas keluar dari mulut Mus’ab. Tanpa ragu dan banyak basa-basi Mus’ab menyatakan keIslamannya. Akan tetapi, ia berusaha menyembunyikan keIslamannya dari keluarga dan karib sahabatnya. Mus’ab tahu bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menyampaikan keIslamannya tersebut.
                Suatu ketika, salah seorang sahabat Mus’ab melihatnya sedang bersama orang-orang muslim dan melaporkan pada keluarga Mus’ab. Ketika pulang, Mus’ab langsung dipukuli oleh kedua orang tuanya. Memar pada tangan badan dan kakinya mulai kelihatan pada kulit putihnya. Mus’ab berusaha menjelaskan semuanya, akan tetapi tetap saja ia di pukuli. ‘Umair sangat marah pada mus’ab dan mengusir anaknya sendiri dari rumah.Mulai sekarang kamu bukan lagi anakku, silahkan ikuti agama Muhammad,” ucap ‘Umair tanpa pikir panjang. Ia sangat kesal mendengar anak kesayangannya telah berpaling darinya dan memeluk agama Muhammad.
                Semenjak itu, Mus’ab mulai menghidupi dirinya sendiri. Bukan tidak mampu menjadi kaya, akan tetapi ia selalu mendahulukan orang lain yang lebih membutuhkan hartanya. Kebaikannya inilah yang membuat Mus’ab semakin miskin. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahunpun bergantikan tahun, umat Islam yang dahulunya agama yang kecil menjadi sangat besar dan tidak bisa diremehkan lagi kekuatannya.
                Mus’ab yang dahulunya orang kaya kini menjadi miskin. Orang yang dahulunya serba apa adanya kini menjadi apa adanya. Ketampanannya yang membumi kini telah lenyap. Semua itu dia persembahkan untuk agamanya. Hal ini membuat Mus’ab dicintai masyarakatnya. Sifatnya yang dahulu sedikit kikir, kini menjadi pribadi yang setia kepada siapa saja. Bukan hanya orang muslim, bahkan dengan orang kafirpun ia berbuat baik. Mus’ab mengamalkan ajaran agamanya untuk berbuat baik kepada siapa saja, menunjukkan bahwa agama Islam rahmatan lilālamīn.
                Sampai suatu ketika, umat Islam mendapatkan panggilan untuk perang. Perang pertama bernama perang Badar, perang yang tidak seimbang antara umat Islam dan kaum kafir kurais. Pada peperangan ini umat Islam hanya berjumlah 300 orang saja, sedangkan orang kafir berjumlah sekitar 1000 pasukan. Hal ini tidak jadi permasalahan bagi umat Islam, karena umat Islam yakin dengan segala kemampuannya.
                Perbedaan kaum kafir dan umat Islam adalah bagi kaum kafir peperangan ini untuk mencari kemerdekaan. Mereka menginginkan hidup yang lebih baik, ingin lebih tenang, ingin mencari harta, dan kuda perang. Sedangkan kaum muslim, mereka menginginkan jihad, yang mereka cari adalah ridha Allah. Mereka menyerang mencari mati, kaum muslim menginginkan syahid di jalan Allah.
                Oleh karena perbedaan inilah umat Islam menyerang bagaikan singa padang pasir yang menyarang mangsanya. Umat Islam bukan ingin mencari duniawi. Akan tetapi umat Islam ingin mati syahid. Walaupun umat Islam kalah jumlah pada peperangan Badar, tapi mereka memenangkan peperangan tersebut. Umat Islam membuat semua orang kafir terkejut akan kekuatannya, yang pada akhirnya membuat kaum kafir untuk mengakui kekalahannya.
                Kaum kafir tidak menerima akan hal ini, mereka menyatakan perang untuk kedua kalinya. Perang tersebut diberi nama perang Uhud. Diberi nama perang Uhud karena peperangan ini terjadi di sekitar gunung Uhud. Kali ini umat muslim memberikan amanah kepada Mus’ab sebagai pemegang panji Islam. Mus’ab merasa sangat terhormat untuk mendapatkan tugas tersebut.
                Pada peperangan ini Rasulullah salallāhu ‘alaihi wa sallām memerintahkan beberapa dari pemanah handal untuk menjaga gunung Uhud. Rasulullah terlihat sangat serius untuk menyuruh para pemanah. “Janganlah kalian tinggalkan gunung Uhud, walau apapun yang terjadi.” Begitulah kata yang terlontarkan dari lisan nabi besar kita itu. Bukan hanya umat muslim yang mempunyai strategi dalam peperangan, kaum kafir juga memiliki beberapa taktik perang untuk mengalahkan umat Islam. Kaum kafir membagi pasukannya menjadi dua pasukan. Pasukan pertama menyerang langsung dari depan, sedangkan pasukan kedua menyerang melalui belakang dengan cara memutari gunung Uhud.
                “ALLAHU AKBAR!” Kata-kata inilah yang membuat umat Islam dari kuat menjadi tak terkalahkan. Di awal peperangan, umat Islam sudah mendominasi kaum kafir. Hal ini membuat para pemanah tergiur untuk turun mengambil rampasan perang. Hanya beberapa di antara mereka yang masih tinggal di gunung Uhud. Tanpa mereka sadari, ternyata kaum kafir telah berada di belakang mereka. Kini keadaan berbalik, umat muslim terperangkap di tengah tengah kaum kafir.
                Mus’ab ibnu ‘Umair yang pada waktu itu memengang panji Islam diserang oleh pemimpin kafir. Serangan pertama tepat mengenai tangan kanan Mus’ab. Rasa pedih itu tidak sama sekali terlihat di mukanya. Dengan segera ia berdiri dan mengambil kembali panji Islam. Melihat akan hal itu pemimpin kafir tersebut dengan segera memutar kudanya dan menebaskan pedangnya pada tangan kiri Mus’ab. Kini Mus’ab tidak memiliki tangan sama sekali. Darah tanpa berhenti mengalir melalui lengan atasnya yang tersisa.
                Mus’ab terus berusaha berdiri dengan segenap kemampuan yang ada dan menggenggam erat panji Islam yang ditempelkan di badannya. Melihat akan hal itu pemimpin kafir sangat marah dan mulai mengejar kembali ke arah Mus’ab dan melemparkan tombak ke arah dadanya. Kini Mus’ab tidak bisa berkata-kata. Tombak itu tepat menembus badannya yang sudah tak berdaya. Perlahan lahan ia terjatuh dengan tetap memegang erat panji Islam di dadanya.
                Ya Allah kami berdo’a kepada-Mu. Semoga kami temaksud golongan orang-orang yang Engkau ridhoi. Semoga kami tetap berada pada jalan yang benar. Masukkanlah kami pada surga-Mu bersama para syuhada’ yang telah berjuang mati-matian membela agama-Mu. Ya Allah, kami hanyalah makhluk-Mu yang lemah. Oleh karena itu, tolonglah hamba-Mu ini dalam menjalani hidupnya. Amiiin...Wallāhu a’lamu bi ash-shawāb. []

Andi Musthafa Husain,
Alumni Pon Pes as-Salam al-Islami
Santri pp uii

Selasa, 20 November 2012

Manusia Butuh Masalah


Oleh: Andi Musthafa Husain


Namanya manusia, tak luput dari apa yang disebut dengan dosa. Begitu juga para anbiyā’ wal mursalīn. Tapi permasalahannya bukanlah itu, akan tetapi bagaimana cara kita menanggapi atau menyikapi dosa yang kita perbuat. Bahkan, baginda Rasulullah SAW pun pernah mendapatkan teguran dari Allah SWT, “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu, kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Tahrīm [66]: 1 ). Ayat di atas merupakan salah satu peringatan Allah SWT kepada Rasulullah SAW.
Lantas, bagaimanakah cara Rasulullah menanggapi hal tersebut? Apakah beliau depresi dan melakukan hal-hal yang tidak senonoh, mabuk-mabukan, main judi, berzina, tentu tidak. Ketika para  anbiyā’ wal mursalīn melakukan sebuah dosa maka yang mereka lakukan pertama kali adalah taubat dengan sebenar-benarnya taubat.
Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahrīm [66]: 8).
Suatau ketika seseorang mendapatkah sebuah musibah, maka ia harus memikirkan tiga hal. Pertama, apakah musibah tersebut diberikan ketika kita dalam keadaan saleh, maka itu disebut cobaan. Dalam arti kata, Allah mau menguji iman orang tersebut, sampai dimana ketangguhan orang tersebut untuk beribadah kepada-Nya. Kedua, apakah musibah tersebut diberikan kepada kita pada saat berbuat maksiat, maka musibah tersebut bisa dikatakan teguran. Bartanda bahwa Allah itu sayang kepada hamba-Nya. Allah tak ingin kita jauh darinya, maka Ia berikan kita sebuah musibah sampai kita sadar akan kesalahan yang kita perbuat.
Golongan terakhir yaitu orang yang senantiasa bermaksiat kepada Allah, manusia yang lupa atas nikmat yang ia rasakan selama ini, manusia yang kufur akan semua yang telah ia peroleh. Apabila tipe orang yang seperti ini ditimpa musibah disebut azab. Azab hanya diberikan kepada orang yang syirik kepada-Nya, orang yang tak pernah ingat kepada-Nya, orang yang tak pernah mandi wajib selama hidupnya. Naudzubillāhi min dzālik. Semoga kita termasuk orang-orang yang disayangi-Nya. Amīn.
Masalah sudah Terjadi Semenjak Penciptaan Manusia
Bukanlah menjadi suatu permasalahan, apabila seorang hamba melakukan dosa kepada Sang Pencipta. Begitu juga antara hamba dengan hamba, karena kesalahan adalah sunnatullah yang seharusnya terjadi pada manusia. Dari semenjak penciptaan Nabi Adam AS dan Hawa, bapak dan ibu moyang seluruh umat ini melakukan sebuah kesalahan dengan memakan buah khuldi, mereka mengikuti perintah syaithan yang terkutuk. Sifat manusia yang memang diciptakan oleh Allah SWT dengan penuh rasa penasaran, yang akhirnya diturunkanlah Nabi Adam AS beserta tulang rusuknya - Hawa -  ke bumi.
Tidak berhenti di situ, anaknya Qabil dan Habil juga melakukan dosa sesama makhluk cipta’an. Alkisah, suatu ketika Nabi Adam dipertemukan dengan Siti Hawa, mereka diberkahi beberapa anak. Anak pertamanya diberi nama Qabil dan disusul oleh adiknya Iqlima’ yang tak lama kemudian disusul oleh pasangan kembar kedua, Habil dan adiknya Luqaba’. Di bawah kasih sayang ibu dan ayahnya, mereka berkembang begitu besar. Seperti fitrahnya, anak laki-laki membantu ayahnya mencari nafkah. Qabil diberkahi oleh Allah dengan tumbuh-tumbuhan, ia menanam beberapa macam tumbuhan, sedangkan Habil diberkahi oleh Allah dengan berternak, ia berternak beberapa macam hewan ternak. Sedangkan anak perempuan membantu ibu.
Sampai pada suatu hari Nabi Adam memutuskan untuk melakukan pernikahan silang, Qabil dengan Luqoba’ sedangkan Habil dengan Iqlima’, akan tetapi Qabil tak dapat menerima keputusan ayahnya, adiknya Iqlima’ jauh lebih cantik dibandingkan dengan Luqaba’. Nabi Adam AS meminta pertolongan atas terjadinya hal ini, sampai pada suatu ketika Nabi Adam memerintahkan untuk mereka berdua mengeluarkan korban dari hasil kerja mereka masing-masing. Pada awalnya, mereka berdua sangat puas dengan keputusan ayahnya, Habil mengeluarkan kambing terbaiknya, berbeda dengan Qabil, ia mengeluarkan sekarung gandum yang tak bagus.
Waktu persembahan pun tiba, mereka semua berkumpul pada sebuah bukit untuk menyaksikan persembahan siapakah yang akan diterima. Tentu saja, persembahan dari Habil-lah yang diterima oleh Allah, persembahan Habil yang dipilih dengan sebaik mungkin, sangat berbeda dengan Qabil. Semuanya sudah jelas, apa yang dilihat oleh Nabi Adam, dan Siti Hawa beserta anak-anaknya, bahwa Allah telah memilih Habil untuk memilih dengan siapa ia harus menikah.
Suatu ketika, Adam ingin meninggalkan rumah, ia menitipkan rumah dan keluarganya pada Qabil, karena Qabil anak pertamanya. Nabi Adam berpesan agar dapat menjaga rumah dengan sebaik-baiknya, menjaga ibu dan adiknya. Qabil menerima amanat ayahnya dengan senang hati dan berjanji akan berusaha sekuat mungkin. Janji itulah yang terdengar di telinga ayahnya, namun di dalam hatinya telah berniat busuk untuk berbuat jahat pada Habil, saudaranya sendiri. Menurut Qabil, inilah waktu yang pas untuk melampiaskan dendamnya, dengan bujukan syaithan ia mendatangi Habil dengan penuh rasa dengaki. Habil berusaha untuk menasihati kakaknya, sesekali Qabil menerima nasihatnya. Akan tetapi, bisikan syaithan lebih kuat, tanpa ia sadari, ia telah membunuh saudaranya sendiri. Inilah pembunuhan pertama manusia di muka bumi.
Cara Menanggapi Masalah
Setiap manusia pasti mempunyai masalah dalam hidupnya, masalah bisa timbul kapan saja, masalah bisa berasal dari orang lain, teman, bahkan keluarga sendiri. Suatu ketika anda mendapatkan masalah, maka bersenanglah, karena orang-orang yang sukses bisa ada karena ia menyelesaikan sebuah permasalahan. Semakin besar ia menyelesaikan masalah, semakin kuat ia untuk mendapatkan kesuksesan dan kehidupan. Allah tidak akan memberikan sebuah permasalahan kepada hamba-Nya melainkan sesuai dengan kemampuanya. Apabila seseorang telah berada pada titik terbawah dalam hidupnya, bersyukurlah, karena ia tak ada jalan lain kecuali naik kepada tempat yang lebih baik. Terkadang masalah yang diberikan Allah kepada kita sangat banyak manfaatnya, akan tetapi kebanyakan kita tidak sabar untuk menemukan hikmah di balik itu semua.
Positive thinking. Kata inilah yang harus kita miliki dalam jiwa maupun raga untuk menemukan hikmah-hikmah yang terkandung pada sebuah masalah. Bukan hanya kita yang mendapatkan masalah, akan tetapi setiap manusia, bahkan para anbiyā’ wal mursalīn juga mendapatkan masalah. Bahkan masalah yang mereka terima jauh lebih berat dari pada manusia-manusia biasa. Nabi Musa di lahirkan pada masa Fir’aun raja yang dzalim. Nabi Luth diberikan kepadanya kaum yang tidak normal keadaannya. Nabi Nuh diberikan anak yang kufur kepadanya. Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anak satu-satunya. Nabi Ayub diberikan penyakit sehingga ditinggalkan anak dan istri-istrinya. Nabi Yusuf dilahirkan sebagai adik yang dibenci kakak-kakaknya. Tapi, mereka menjalani semua itu dengan penuh rasa optimis dan yakin tentang takdir yang telah Allah berikan kepadanya.
Relax. Hadapilah permasalahan dalam hidup ini penuh dengan senyuman. Menyelesaikan masalah dengan tenang dan yakin terhadap apa yang kita kerjakan. Terkadang sebuah permasalahan bisa timbul dikarenakan perilaku yang buruk, gugup, ceroboh. Semua itu biasanya timbul karena tidak relax dalam melakukan sesuatu. Perasaaan relax menimbulkan ketenangan, hingga merespon ke otak dan menyebabkan kesenangan dalam melaksanakan sesuatu. Jika permasalahan yang kita dapatkan telah selesai, kita akan merasakan sesuatu yang tak bisa diukir dengan kata-kata. Kita akan merasakan kebahagiaan yang sangat di dalam hati, muka akan tampak lebih tenang.
Tawakal. Apabila masalah datang secara terus-menerus, perhatikanlah pesan yang Allah berikan kepada kita. Pasti ada permasalahan yang disembunyikan Allah kepada kita. Timbulkan berfikir positif kepada setiap permasalahan yang datang, ciptakan perilaku relax kepada perilaku setiap kesulitan yang tiba. Setelah semua itu kita kuasai, bertawakallah kepada Allah. Berdoalah, “Ya Allah berikanlah hamba-Mu ini yang terbaik bagi-Mu. Terkadang kami berpikir itu baik bagi kami padahal sangat buruk bagi-Mu. Terkadang itu buruk menurut kami padahal sangat baik bagi-Mu untuk kami. Berikanlah kami yang terbaik bagi-Mu untuk kami. Amiiiiin...Wallāhu a’lamu bi ash-shawāb. []

Andi Musthafa Husain,
Santri Pon Pes UII


* Tulisan ini telah diterbitkan di Alrasikh, buletin Jum'at UII

Senin, 22 Oktober 2012

Wanita Itu Mengecup Pipiku



"Setelah mengantarkannya pulang tak ku sangka wanita itu mengkecup lembut pipiku, terlihat begitu sederhana tapi sangat bermakna dalam hidupku", ucap husin di lubuk hati terdalamnya







Sudah menjadi kebiasaan para santri untuk melakukan tanzīful ām (bersih-bersih) setiap pagi Minggu. Pagi itu Husin di minta oleh Ust Samsul untuk membantunya mengantarkan anak muridnya menuju tempat perlombaan “hari ini ada perlombaan memasak”, kata ust Samsul dengan tegas, seakan-akan ini adalah sebuah perintah yang tak bisa Husin hindari. Dengan segera Husin pun meminta izin ke pada bagian kebersihan untuk menemani ust Samsul menjemput anak muridnya.
                Ustadz Samsul memang terkenal bengis, tapi ia mempunyai sifat toleril yang sangat tinggi. Untuk tidak membuat ust Samsul menunggu lama Husin segera mengganti baju kaosnya dengan baju kemeja yang biasa ia bawa kekampus. Ketika Husin siap untuk berangkat, datanglah Najib, teman yang kamarnya tak begitu jauh dengan Husin. Tarnyata Ust Samsul membutuhkan 3 motor untuk membawa semua muridnya.
                Husin berangkat menuju lokasi, dalam perjalanan sempat kelabakan sih mengejar mereka, motor yang kunaiki tak sepantar dengan yang mereka punya, mau tak mau Husin harus bersih keras untuk bisa menyusul ketinggalannya. Semakin lama perjalanan yang di tempuh semakin jauh Husin ketinggalan, walau begitu Husin mempunyai insting yang kuat, ia terus mengebut tanpa mengetahui arah jalan yang harus ia tempuh.
                Ketika Husin tak tau lagi harus kemana ia pergi, ia mematikan motornya sejenak dan mengambil hape yang terdapat pada saku celananya, betapa terkejutnya Husin ketika melihat hapenya, ternyata ia berada pada kawasan yang sulit di jangkau, singalnya begitu lemah. Dengan galaunya ia terus memutari sebuah gedung. Tanpa ia sadari, ternyata di dalam gedung itu banyak gadis yang sedang memperhatikannya.
                Tak lama setelah Husin menyadari akan hal itu, dengan keadaan yang sedikit kacau ia cepat menghidupkan kembali motornya untuk menuju tempat yang belum pasti keberadaanya. “TIIINNN, TIIINNN, TIIINNN” suara kelakson yang tak asing bagi telinga Husin terdengar tepat di belakangnya. Tepat sekali, suara kelakson itu adalah bunyi dari motor ust Samsul. “Sudah sampai kamu Sin” dengan muka keheranan aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri “kok bisa, padahal tadi perasaanku mengatakan, aku ketinggalan pada mereka“. Dengan segera ustadz Samsul mengajakku masuk ke gedung yang ku putari tadi, beliau mengajak beberapa wanita yang telah ia pilih untuk menjadi peserta lomba masak.
                Tanpa basa-basi, ust samsul mempersilahkan seorang wanita yang bukan mahram bagi Samsul untuk menumpang di motornya, yah anggap aja ini sebuah perintah dari seorang guru pada muridnya, dalam perjalanan pergi menuju lokasi perlombaan, sapatah katapun tak keluar dari bibir Husin, ia terus menjaga martabatnya, ia selalu berpikir tentang moto hidupnya “HARGA DIRI TAK SEMURAH MAS MURNI”, perjalanan itu terasa sedikit menggerahkan, wanita yang di bonceng Husin selalu berupaya untuk memegang pinggangnya. Padahal Husin adalah tipe pria yang sangt penggeli, maksud dari wanita itu sebenarnya baik, tapi dengan segera ia menyadari bahwa Husin tak tahan terhadap geli.
                Setibanya Husin di tempat perlombaan, masing-masing kelompok telah mempersiapkan bahan yang akan di gunakan. Saya sangat terkecut, ketika melihat para musuhnya ternyata sangat formal dan meyakinkan, tampak agak sedikit pesimis pada muka ust Samsul. Semua peserta menggunakan seragam yang meyakinkan, sedangkan Husin tampil apa adanya. Mereka tampil dengan pemimbing yang ahli di bidang memasak, sedangkan Husin hanya mempunyai 3 orang yang ahli di lain bidang. Mereka tampil dengan peralatan canggih dan lengkap, sedangkan Husin hanya membawa panci penyot dan piring.
                Semua itu Husin lewati dengan penuh happy kecuali ust Samsul, ia tampak sedikit pucat memikirkan persiapan lawannya. Sebelum memulai perlombaan masing-masing 5 peserta dan 1 pemimbing diperintahan untuk bersiap-siap pada tempatnya. Seluruh panitia menyediakan peralatan untuk peserta, disamping panitia menyiapkan alat perlombaan, dewan juri membacakan krateria penilaian dengan singkat. Seorang panitia yang memeriksa peralatan kompor Husin mengangkat tangan dan menyatakan bahawa kompor kelompok 7 tidak bisa digunakan. Tak lama kemudian datang panitia lain membawa kompor yang hampir sama dan mencoba kembali tuk menghidupkan, ternyata kompor itu bisa hidup tapi tak bisa mati, gas yang begitu kencang mengeluarkan api yang besar, semua panitia, peserta, maupun dewan juri dengan segera memadamkan api tersebut yang pada akhirnya Husin memakai kompor yang paling terakhir.
                Meskipun kompor terakhir, tapi terlihat masih seperti baru, baru mau rusak. Rasa percaya diri ust Samsul semakin menghilang tapi, terlihat sebaliknya, anak didiknya begitu semangat. Perlombaan di mulai, semua memulai menghidupkan api, memasak, mengeluarkan bumbu yang ada. Terlihat kelompok ust Samsul yang paling sederhana, mereka hanya mengeluarkan panci hitam yang sudah penyot, sebungkus mi kuah, dan beberapa butir telur. Dengan durasi waktu 45 menit semua kelompok berusaha bekerja sama, dan saling tolog menolong. Singkat kata singkat cerita, 45 menit terasa begitu cepat, semua kelompok dipersilahkan untuk mempersembahkan masakannya kepada dewan juri.
                Setiap kelompok mempersembahkan masakan yang terakreditasi dan mempesona, semua berkelas dan layak di tampilkan di lestoran. Sampai tiba pada kelompok ust Samsul, terlihat senyum kecil kece dari dewan juri, terlihat sosis yang di gulung dengan telur dan mie gosong, berbaris seperti kuburan cina, terdengar oleh peserta “rasanya enak, penataanya rapi, semangatnya oke, dan kekompakannya bagus”, seakan-akan tidak ada cela pada masakan itu, tapi Husin semua sadar, itu hanya sekedar penenang agar tidak kecewa terhadap masakan yang telah susah paya di masak.
                Pengumuman juara dipanggil satu-persatu, tentu kelompak ust Samsul tidak menjadi juara “tenang aja kita itu juara 4, tapi karena gak ada juara 4 kita tak di panggil”, ucapku menyemangati. Setelah penilaian dewan juri semua pembimbing membareskan perlengkapan memasaknya. Berbeda dengan Husin, wanita-wanita iitu membereskan sendiri alatnya tanpa meminta bantuan kepada ust Samsul. Terlihat dewan juri mengarah kepada Husin dan mengangkat kedua jempol mereka. Setidaknya kejadian tadi membuat Ust samsul sedikit legah dan senang, senyuman yang tadi sempat senyap kini timbul kembali.
                Di jalan menuju pulang, ust Samsul menyuruh Husin untuk mengembalikan wanita-wanita itu kembali pada rumahnya. Seorang wanita yang terlihat begitu manis, kulit putih bercahaya, hidung mancung memanjang, bibir tipis berwarna ping lembut. Ia menaiki motor Husin dengan segera dan meminta untuk mengantarkannya kerumah. Diperjalanan Husin banyak berbicara, sepertinya Husin mulai akrab dengan wanita itu.
                Perjalanan menjadi begitu singkat, tak terasa perjalanan satu setengah jam itu terasa seperti beberapa menit. Sesampai di rumah wanita itu mengkecup pipi Husin dengan cepat dan menyampaikan terima kasihnya atas semua yang telah Husin berikan padanya, seketika itu muka Husin memerah, pikirannya melayang entah kemana, tak sempat memikirkan apa-apa ia segera memutar motornya untuk melanjutkan perjalanan pulang dan menuliskan kisah ini.








*Wanita itu bernama fatimah, salah satu murid TPA ust Samsul yang usianya berkisar 6 hingga 7 tahun. 

Jumat, 12 Oktober 2012

Wanita Perkasa


Bila dahaga, yang susukan aku….ibu
Bila lapar, yang menyuapi aku….ibu
Bila sendirian, yang selalu di sampingku.. ..ibu
Kata ibu, perkataan pertama yang aku sebut….Ibu
Bila bangun tidur, aku cari…..ibu
Bila nangis, orang pertama yang datang ….ibu
Bila ingin bermanja, aku dekati….ibu
Bila ingin bersandar, aku duduk sebelah….ibu
Bila sedih, yang dapat menghiburku hanya….ibu
Bila nakal, yang memarahi aku….ibu
Bila merajuk, yang membujukku cuma….ibu
Bila melakukan kesalahan, yang paling cepat marah….ibu
Bila takut, yang menenangkan aku….ibu
Bila ingin peluk, yang aku suka peluk….ibu
Aku selalu teringatkan ….ibu
Bila sedih, aku mesti telepon….ibu
Bila senang, orang pertama aku ingin beritahu…..ibu
Bila marah.. aku suka meluahkannya pada..ibu
Bila takut, aku selalu panggil… “ibuuuuu! “
Bila sakit, orang paling risau adalah….ibu
Bila aku ingin bepergian, orang paling sibuk juga….ibu
Bila buat masalah, yang lebih dulu memarahi aku…..ibu
Bila aku ada masalah, yang paling risau…. ibu
Yang masih peluk dan cium aku sampai hari ni.. ibu
Yang selalu masak makanan kegemaranku. …ibu
Kalau pulang ke kampung, yang selalu member bekal…..ibu
Yang selalu menyimpan dan merapihkan barang-barang aku….ibu
Yang selalu berkirim surat dengan aku…ibu
Yang selalu memuji aku….ibu
Yang selalu menasihati aku….ibu
Bila ingin menikah..Orang pertama aku datangi dan minta persetujuan. ….ibu
Saat Aku telah memiliki pasangan hidup sendiri….
Bila senang, aku cari….pasanganku
Bila sedih, aku cari….ibu
Bila mendapat keberhasilan, aku ceritakan pada….pasanganku
Bila gagal, aku ceritakan pada….ibu
Bila bahagia, aku peluk erat….pasanganku
Bila berduka, aku peluk erat….ibuku
Bila ingin berlibur, aku bawa….pasanganku
Bila sibuk, aku antar anak ke rumah….ibu
Bila sambut hari jadi dgn pasanganku.. Aku beri hadiah pada pasanganku
Bila sambut hari ibu….aku cuma dapat ucapkan “Selamat Hari Ibu”
Selalu.. aku ingat pasanganku
Selalu.. ibu ingat aku
Setiap saat…aku akan telepon pasanganku
Entah kapan… aku ingin telepon ibu
Selalu…aku belikan hadiah untuk pasanganku
Entah kapan… aku ingin belikan hadiah untuk ibu
Renungkan: “Kalau kau sudah selesai belajar dan berkerja…. masih ingatkah kau pada ibu? tidak banyak yang ibu inginkan… hanya dengan menyapa ibupun cukuplah”.
Berderai air mata jika kita mendengarnya……..
Tapi kalau ibu sudah tiada……….
IBUUUU…RINDU IBU…. RINDU SEKALI….
Berapa banyak yang sanggup menyuapi ibunya….
Berapa banyak yang sanggup mencuci muntah ibunya…..
Berapa banyak yang sanggup menggantikan alas tidur ibunya……
Berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya…….
Berapa banyak yang sanggup membuang belatung dan membersihkan luka kudis ibunya…..
Berapa banyak yang sanggup berhenti kerja untuk menjaga ibunya…..
dan akhir sekali berapa banyak yang men-SHOLAT-kan JENAZAH ibunya……






Seorang anak menemui ibunya yang sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur lalu menghulurkan selembar kertas yang bertuliskan sesuatu. Si ibu segera melap tangannya dan menyambut kertas yang dihulurkan oleh si anak lalu membacanya.
Upah membantu ibu:
1) Membantu pergi belanja : Rp 4.000,-
2) Membantu jaga adik : Rp 4.000,-
3) Membantu buang sampah : Rp 1.000,-
4) Membantu membereskan tempat tidur : Rp 2.000,-
5) Membantu siram bunga : Rp 3.000,-
6) Membantu sapu sampah : Rp 3.000,- Jumlah : Rp 17.000,-
Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak , kemudian si ibu mengambil pensil dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama.
1) Biaya mengandung selama 9 bulan – GRATIS
2) Biaya tidak tidur karena menjagamu – GRATIS
3) Biaya air mata yang menitik karenamu – GRATIS
4) Biaya gelisah karena mengkhawatirkanmu – GRATIS
5) Biaya menyediakan makan, minum, pakaian, dan keperluanmu -GRATIS
Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku – GRATIS
Air mata si anak berlinang setelah membaca apa yang dituliskan oleh si ibu. Si anak menatap wajah ibu,memeluknya dan berkata, “Saya Sayang Ibu”. Kemudian si anak mengambil pensil dan menulis “Telah Dibayar Lunas” ditulisnya pada muka surat yang sama.
Renungkanlah wahai saudara dan saudariku………

Selasa, 02 Oktober 2012

Belajar Sebelum Mengajar


Mungkin sudah menjadi suatu yang biasa bagi santri pp uii untuk mengajar anak TPA, tapi hari ini saya banyak belajar akan hal itu, setelah dua hari di training oleh salah satu kakak smester yang sudah berpengalaman dalam mengajar anak TPA, saya banyak mendapatkan pengalaman yang tak ternilai harganya,
                Hari itu di mulai dari salah seorang ustadz yang mengajak saya mengajar di sanggar (anak yatim),  mendengar akan hal itu saya langsung bergegas untuk menyiapkan apa-apa yang seharusnya di persiapkan, apalagi sang ust meminta saya untuk mengajar matematika, “WAH” mulut saya mengatakan kata tersebut secara sepontanitas.
                Bukannya saya takut akan mengajar anak TPA untuk mata pelajaran matematik, tapi saya gak habis pikir, kok bisa, Ust tersebut mengetahui saya sangat menyukai pelajaran matematika,  dengan semangat yang tinggi saya pelajari lagi matematik yang akan saya ajarkan,
                Tak lama setelah mendengar kabar baik tersebut, sebuah getaran yang tak asing lagi bagi saya terasa di saku kanan celana, dengan cepat saya membuka pesan singkat tersebut, “ Andi mohon maaf, Ust ada acara mendadak,  mengajarnya mugkin bisa di ganti minggu depan. Saya yang membaca sms tersebut merasa sedikit banyak kecewa atas apa yang ustad tersebut sampaikan, ucap saya, sambil sedikit berontak sambil memasukkan hape ke saku.
                Agak kecewa sih, setelah mendengar berita baik yang di susul berita yang membatalkan akan berita baik tersebut. Sambil membereskan buku- buku saya terus memikirkan, acara apa sih yang ust lakukan untuk membatalkan sebuah amal yang tak ternilai pahalanya ini??.,
                Sampai pada saat saya memutuskan “the day 4 sleep” sebuah ketukan mengharapkan saya untuk membuka pintu kamar terdengar agak kencang, “tidak ada orang” guyon saya sambil membuka pintu.
                Aziz       : ndi, kamu ada kerjaan??
                Andi      :ngak ziz, emang ada apa??
                Aziz       :ini ndi, kamu bisa temanin aku ngajar TPA ngak??
                Andi      : ooo, dengan senang hati ziz,,
                Setelah melaksanakan shalat ashar berjamaah, kami segera ke alokasi di mana tempat aziz biasa mengajar anak TPA. “Sampai tepat waktu”, katanya sambil mematikan motor dan mencabut kontak. Tanpa basa basi aziz langsung menyuruh saya untuk mengajar pada bab tawadu’.
                Pelajaran terlihat sengat lancar, terlihat dari senyuman- senyuman anak TPA yang begitu tulus memperhatikan saya mengajar, saya mulai senang dengan mereka, begitu pula sebaliknya.
Beberapa pelajaran yang dapat saya ambil hikmahnya:
  1. ·        Allah mengajarkan saya mengajar dari yang termudah terlebih dahulu untuk mengetahui, sampai dimana kemampuan yang saya punya.
  2. ·        Terlihat tawa tulus di antara anak TPA yang secara tidak langsung mengajarkan saya untuk jujur. Sebenarnya saya iri dengan mereka, karena mereka sangat bebas mengexspresikan sifat asli mereka tanpa ada kebohongan yang tersembunyi, ketika mereka kesakitan, mereka akan menangis, ketika mereka senang mereka akan tertawa.
  3. ·        Sehingga kamu mengira itu baik bagi kamu padahal itu jelek bagi kamu, dan begitu pula sebaliknya kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu.
  4. ·        Allah tak akan mengurangi rizki seseorang melainkan Ia akan menggantinya, dengan sesuatu yang setimpal bahkan lebih dari itu.

Kamis, 27 September 2012

Surat kecil dari tuhan








25 sepember 2012,,,,, saya mulai pada tengah malam, pada hari ini di mana bisa di katakan hari kedua saya setelah pindah kamar. Tidur nyenyak emang menjadi suatu barokah yang tak ternilai harganya, ya malam itu tepatnya pukul 01.00 saya terbangun akibat sebuah pukulan keras yang mengenai wajah saya seketika itu saya berkata di dalam hati “oug mungkin cuman mengigau” tak lama kemudian sebuah hantaman yang tak kalah keras juga mengenai kepala saya  “aseeem” ucap saya pada malam itu, dikarenakan tidak bisa menyambung tidur sayapun bergegas menyiapkan pakaian, memakai sarung serta tidak lupa tuk membawa alquran, sayaapun mulai shalat sunah malam, dan mengaji sambil menunggu azan subuh di komandangkan.
Smester 3 yang mendapat jadwal kuliah setelah shalat subuh satu persatu berdatangan menuju kelasa yang baru di bangun tahun yang lalu, berarti rombongan kamilah yang pertama menyicipi berada di kelas baru, selain itu kami juga mendapatkan salah seorang dosen faforit yang dulunya adalah seorang dosen dari guru kami(wow us and them one teacher)
Dalam kelas kami semua mendapatkan banyak sekali pelajaran pelajaran yang langsung di peraktekkan oleh dosen, arti kata, kami mendapatkan ilmu yang kami sendiri yang menemukan jawabanya, salah satu ilmu yang saya peroleh adalah tetang tugas makhluk yang bernama syaiton.               
dosen: ‘ adakah yang tau tugas syaiton???
Kebanyakan mahasiswa menjawab dengan lantangnya sambil mengatakan,” menganggu manusia,,,,,”
“Seandainya manusia itu konsisten untuk beribadah kepada Allah otomatis syaiton akan kalah ..... dan ketika manusia yang kalah manusia akan masuk nerakah dan apakah syaiton yang melaksanakan tugasnya akan mendapatkan apresiasi plus karena melaksanakan tugasnya dengan baik??” kata dosen
                Seketika itu juga segenap mahasiswa yang berada dalam ruangan tersebut terdiam ,, Itulah sesungguhnya menggoda manusia adalah pilihan hidup syaiton bukan tugas” sambung dosen menerangkan pelajaran
                Hati saya sejenak agak termenung , memang, saya ini telah banyak mendapatkan ilmu dari Allah tapi apakah saya mengamalkannya dalam ke diri saya sendiri???
ada tanda tanya besar yang tersimpan dalam ilmu-ilmu yang saya miliki
                Ada satu lagi cerita yang di sampaikan dosen tentang bagaimana Allah menyampaikan pesannya kepada hamba melalui perantara- perantara yang ada. Al kisah sekitar setahun yang lalu beliau mengadakan pertemuan di thailand, ketika di pesawat beliau kehilangan bbnya yang ia letakkan dalam saku ikat pingang, dengan tenang ia membaca, pesan apakah yang di sampaikan Allah kepada hamba... oh ia ternyata hari itu adalah hari jum’at. Pada saat mau kembali ke indonesia, beliau kehilangan sebuah kamera digital, beliaupun mencoba kembali membaca pesan apa yang di sampaikan maha pencipta kepada hambanya, oh ia hari itu adalah hari jumat.......
Setelah 2 kali meninggalkan shalat jum’at yang ketiga adalah kafir hukumnya, maka harus bersahadat kembali, ehhh ternyata beliau di uji oleh ALLAH pada hari jum’at esoknya beliau di panggil oleh mentri untuk menghadiri rapat yang tiketnya sudah di pesankan pada jam 11.40 wib,, mendengar akan hal tersebut beliau berdo’a “ ya ALLAH mudahkanlah dalam urusan saya”. Tak lama kemudian wakil dari mentri tersebut menelpon menyatakan keberangkatan beliau di percepat dengan konsekuensi pertambahan uang tiket di bayar sendiri. ALHAMDULILLAH ucap beliau dengan lega dan bahagia. Hari jum’at pagi beliau menghadap ke bandara dan menyatakan untuk memajukan jadwal penerbanganya dengan membayar uang sebesar 500rb an. Ya Allah qu persembahkan uang 500rb untuk menghadap panggilan MU”.
                “ALLAH MENGETAHUI APA YANG KAMU TIDAK KETAHUI”. Beliaupun dapat melaksanakan sholat jum’at bersama dengan pak mentri dan ntah bagaimana amplop yang di berikan kepada beliau lebih tebal dari yang biasanya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran yang terdapat pada kisah beliau,,,beliau adalah DRS Heri susanto M. HUM. Dosen filsafa univ gadjah mada dan dosen statistika univ islam indonesia.    


aminnnnn..

Memulai Bisnis Mentok (Sebuah Tulisan Amatir)

Dengan berbagai alasan melihat situasi dan kondisi di perdesaan, akhirnya saya mencoba untuk berternak entok. Pada dasarnya entok diterna...